Challenge Based Learning Qla Apple Developer Academy
Belajar Bukan Hanya Mencari Jawaban, tetapi Memecahkan Masalah Nyata
BERSAMA APPLE DEVELOPER ACADEMY DI AJANG UI INNOVATION FESTIVAL 2026
Ada satu hal menarik dalam ajang UI Innovation Festival 2026. William Sjahrizal berbagi mengenai Challenge Based Learning (CBL), pendekatan pembelajaran yang digunakan di Apple Developer Academy. Gagasannya sebenarnya mudah dipahami: jangan mulai dari teknologi apa yang ingin kita buat. Mulailah dari masalah nyata apa yang perlu kita selesaikan.
DARI PERTANYAAN MENUJU SOLUSI Dalam CBL, peserta tidak langsung diminta membuat aplikasi, produk, atau prototype. Mereka terlebih dahulu diajak memahami persoalan, menyusun Guiding Questions, melakukan research, mencari berbagai resources, kemudian mengembangkan dan menguji solusi.
BIG IDEA → CHALLENGE → GUIDING QUESTIONS → RESEARCH → SOLUTION → ACTION → IMPACT
Artinya, kemampuan bertanya menjadi sama pentingnya dengan kemampuan menjawab. Pertanyaannya bukan sekadar: “Teknologi apa yang bisa kita buat?” Tetapi berkembang menjadi: • “Masalah apa yang benar-benar terjadi?” • “Siapa yang mengalami masalah tersebut?” • “Mengapa masalah itu belum terselesaikan?” • “Teknologi apa yang dapat membantu?” • “Apakah solusi tersebut benar-benar dapat digunakan?”
Di sinilah pembelajaran berubah dari sekadar KNOWING menjadi DOING & SOLVING.
SANGAT RELEVAN UNTUK TECHNOPRENEUR Pendekatan ini menjadi semakin menarik apabila dihubungkan dengan pengembangan Technopreneur berbasis kebutuhan nyata industri. Bayangkan jika perusahaan dan kawasan industri membawa berbagai persoalan nyata mereka ke kampus. Masalah energi, manufaktur, pertambangan, lingkungan, pangan, logistik, digitalisasi hingga efisiensi produksi dapat diterjemahkan menjadi INDUSTRY CHALLENGE bagi mahasiswa dan peneliti.
Prosesnya kemudian bergerak:
REAL INDUSTRY PROBLEM ↓ CHALLENGE BASED LEARNING ↓ CAMPUS RESEARCH & INNOVATION ↓ TECHNOLOGY SOLUTION ↓ PROTOTYPE & TESTING ↓ INDUSTRY VALIDATION ↓ BUSINESS MODEL ↓ TECHNOPRENEUR
Dengan cara tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar menjadi pencipta teknologi, tetapi juga menjadi PROBLEM SOLVER dan calon entrepreneur yang memahami kebutuhan pasar.
KAMPUS DAN INDUSTRI DIPERTEMUKAN OLEH MASALAH NYATA Inilah perspektif penting yang dapat dibawa dari pembahasan CBL di ajang UI Innovation Festival 2026. Hubungan kampus dan industri tidak harus selalu dimulai dengan pertanyaan: “Riset apa yang dimiliki kampus?” Pertanyaannya dapat dibalik: “Masalah apa yang sedang dihadapi industri?”
Dari sana kampus dapat melihat kompetensi, penelitian, mahasiswa, laboratorium, dan teknologi apa yang dapat dikerahkan untuk menjawabnya.
INDUSTRI membawa PROBLEM. KAMPUS membawa KNOWLEDGE & RESEARCH. MAHASISWA membawa CREATIVITY. TEKNOLOGI membawa SOLUTION. TECHNOPRENEUR membawa solusi menuju MARKET.
DARI INNOVATION FESTIVAL MENUJU INNOVATION ECOSYSTEM Karena itu, nilai sebuah festival inovasi tidak seharusnya berhenti ketika acara selesai. Challenge dapat dilanjutkan menjadi riset. Riset dapat berkembang menjadi prototype. Prototype dapat diuji bersama industri. Solusi yang berhasil dapat dikembangkan menjadi bisnis.
FESTIVAL → CHALLENGE → RESEARCH → SOLUTION → INDUSTRY → BUSINESS → IMPACT
Di titik inilah UI Innovation Festival 2026 dapat menjadi ruang strategis untuk mempertemukan MASALAH, TALENTA, RISET, TEKNOLOGI, INDUSTRI dan KEWIRAUSAHAAN.
Pertanyaan akhirnya bukan hanya: “INOVASI APA YANG BISA KITA BUAT?” Tetapi: “MASALAH NYATA APA YANG BISA KITA PECAHKAN — DAN BAGAIMANA MEMBUAT SOLUSINYA BENAR-BENAR DIGUNAKAN?”
Dari Challenge menuju Solution. Dari Solution menuju Implementation. Dari Implementation menuju Business. Dari Business menuju IMPACT.