Ketika mendengar proyek PLTB 100 MW, perhatian biasanya langsung tertuju kepada turbin. Padahal untuk membuat turbin tersebut dapat berdiri, terhubung ke grid dan beroperasi puluhan tahun, dibutuhkan rantai pekerjaan yang jauh lebih luas.
wind turbine, generator, blade, tower dan control system.
Namun turbin tidak dapat berdiri sendiri. Dibutuhkan foundation, jalan akses, crane pad, pekerjaan civil dan erection. Peralatan berukuran sangat besar juga menciptakan tantangan tersendiri. Blade dan tower harus bergerak dari pelabuhan menuju lokasi proyek.
Maka muncul kebutuhan:
PORT HANDLING HEAVY TRANSPORT SPECIAL LOGISTICS CRANE & HEAVY LIFTING.
Dan setelah COD, proyek belum selesai. Wind farm membutuhkan inspection, maintenance, spare parts, monitoring hingga predictive maintenance selama masa operasi. Artinya: 100 MW PLTB BUKAN PASAR UNTUK SATU VENDOR. Ia menciptakan sebuah EKOSISTEM PROYEK.
Bagi member TENDER INDONESIA, pertanyaan terpenting bukan: “Apakah kami perusahaan wind turbine?”
Tetapi: “DI BAGIAN MANA PRODUK & JASA KAMI MASUK KE DALAM VALUE CHAIN PLTB?”
Di situlah angka MW berubah menjadi peluang bisnis nyata.