Melihat target COD saja belum cukup. Sebuah PLTB tidak berubah dari angka dalam RUPTL menjadi pembangkit dalam satu langkah. Perjalanannya panjang. Sebelum konstruksi dimulai, developer perlu memastikan kualitas sumber daya angin dan kelayakan lokasi. Kemudian muncul kebutuhan survey, feasibility study, geotechnical study, environmental study hingga desain awal. Proyek juga harus menjawab pertanyaan penting: Bagaimana listriknya masuk ke jaringan? Karena itu studi penyambungan dan kesiapan infrastruktur transmisi/gardu induk menjadi bagian penting dari perkembangan proyek.
Setelah proyek semakin matang, masuklah persoalan komersial dan pendanaan. PPA, financing dan bankability akan menentukan apakah proyek dapat bergerak menuju eksekusi. Barulah engineering berkembang menjadi paket procurement dan construction. Secara sederhana perjalanan tersebut dapat dibaca:
Mengapa ini penting bagi supplier? Karena setiap perusahaan mempunyai ENTRY POINT yang berbeda. Konsultan dan perusahaan survey dapat masuk ketika proyek masih sangat awal.
Engineering company masuk ketika desain mulai dikembangkan. Equipment supplier mulai semakin relevan ketika spesifikasi dan procurement terbentuk. Kontraktor civil, erection, logistics dan electrical bergerak mendekati fase konstruksi. Sedangkan perusahaan O&M melihat peluang setelah installed base terbentuk.
JADI JANGAN HANYA TANYA: “KAPAN TENDERNYA?”
Pertanyaan yang lebih bernilai adalah: “PROYEK SEKARANG BERADA DI TAHAP MANA?”
Karena tahap proyek menentukan siapa yang seharusnya mulai bergerak.