Tidak semua teknologi mineral recovery perlu ditemukan kembali dari nol. Dunia sudah mempunyai pengalaman panjang dalam flotation, hydrometallurgy, pyrometallurgy, sorting, separation, leaching, water treatment dan residue processing. China, Australia, Eropa, Jepang dan negara lain dapat menjadi sumber teknologi dan pengalaman.
Tetapi terdapat perbedaan besar antara: BUYING TECHNOLOGY dan BUILDING TECHNOLOGICAL CAPABILITY. Indonesia dapat menggunakan teknologi global sebagai starting point, kemudian mengadaptasinya terhadap karakter mineral lokal.
GLOBAL TECHNOLOGY × INDONESIAN MINERAL × BRIN / UNIVERSITY × LOCAL ENGINEERING × MINING COMPANY × CONTRACTOR × LOCAL SUPPLY CHAIN = LOCALIZED TECHNOLOGY.
Contohnya, teknologi yang berhasil mengolah tailings atau red mud di negara lain belum tentu dapat langsung diterapkan pada material Indonesia. Mineralogy, impurity, particle size, chemistry dan economics dapat berbeda.
Karena itu tetap diperlukan: LOCAL CHARACTERIZATION → LAB TEST → PROCESS ADAPTATION → PILOT → ENGINEERING → DEMONSTRATION → COMMERCIALIZATION.
Target akhirnya bukan sekadar imported equipment beroperasi di Indonesia.
Target yang lebih strategis: KNOWLEDGE TRANSFER → TECHNOLOGY ABSORPTION → LOCAL ENGINEERING → CO-DEVELOPMENT → LOCAL MANUFACTURING → INDONESIAN CAPABILITY.