Sumber daya mineral adalah aset yang terbatas. Setiap ton mineral yang diproduksi menghasilkan pendapatan, tetapi pada saat yang sama mengurangi mineral yang masih tersimpan di dalam deposit.
Inilah salah satu “Mining Paradox” yang disampaikan Ir. Milawarma, M.Eng. Karena itu tujuan pengelolaan tambang tidak cukup hanya mengejar produksi tertinggi.
Pertanyaannya harus diperluas:
Apakah kita mengejar highest production? Highest profit? Longest mine life? Maximum mineable reserve? Atau highest reserve value?
Nilai suatu aset pertambangan dibangun melalui perjalanan panjang:
Artinya, mineral baru memberikan strategic advantage ketika perusahaan mampu mengelola seluruh asset lifecycle tersebut. Cash flow dari produksi juga perlu dikembalikan menjadi kemampuan baru: eksplorasi, reserve replacement, teknologi, peningkatan recovery, efisiensi operasi, pengembangan SDM dan inovasi. Dengan cara ini, produksi hari ini tidak sekadar menghabiskan aset. Produksi menjadi sumber pembiayaan untuk menciptakan aset dan kemampuan berikutnya. Pertambangan modern karena itu harus mengelola tiga sasaran sekaligus:
RESPONSIBLE diterima dan memberi manfaat bagi lingkungan, masyarakat dan pemerintah.
RESILIENT mampu menghadapi siklus harga, perubahan pasar, supply-chain disruption dan perubahan teknologi.
COMPETITIVE memiliki biaya, produktivitas dan kecepatan inovasi yang mampu bersaing secara global.
Tujuan akhirnya bukan sekadar mengeluarkan mineral dari bumi.
Tujuannya adalah mengubah finite resources menjadi enduring value.