Peta PLTB Indonesia Tidak Berhenti Di Sidrap & Jeneponto
Sulawesi selama ini menjadi wajah paling dikenal dari industri PLTB Indonesia melalui Sidrap dan Tolo/Jeneponto. Tetapi RUPTL memperlihatkan bahwa cerita berikutnya mulai menyebar ke wilayah lain. SUMATERA mulai mempunyai pipeline yang jelas. Bayu Sumatera 55 MW direncanakan pada 2026, disusul 55 MW pada 2028. Kemudian terdapat kuota PLTB tersebar 110 MW pada 2030 dan 100 MW pada 2034. Artinya, dari entri tersebut saja terlihat 320 MW pengembangan PLTB di Sistem Sumatera.
JAWA–BALI memperlihatkan skala yang lebih besar. Selain PLTB Banten 2 × 100 MW, RUPTL mencantumkan berbagai kuota PLTB tersebar dalam ukuran ratusan MW. Di Jawa Tengah juga terdapat PLTB isolated Karimunjawa 2,2 MW. Sementara daftar potensi Jawa Tengah mencantumkan:
Banten juga mencatat potensi PLTB Pandeglang I sebesar 300 MW. SULAWESI belum selesai. Di Sulawesi Barat terdapat potensi PLTB Majene 30 MW serta dua potensi masing-masing 60 MW. MALUKU pun mulai menarik. RUPTL mencatat potensi PLTB Ambon, Nusa Saumlaki dan Kei Kecil.
Peta ini menunjukkan sesuatu yang penting: MARKET PLTB INDONESIA TIDAK SERAGAM.
Ada utility-scale wind farm ratusan MW. Ada proyek puluhan MW. Ada pula kebutuhan sistem isolated yang jauh lebih kecil. Karena itu teknologi, model pembiayaan, logistik, interkoneksi dan kebutuhan kontraktornya juga tidak selalu sama. Bagi supplier, pertanyaannya bukan lagi: “Di mana Indonesia punya angin?” Tetapi: “DI SISTEM MANA PROYEK MULAI TERBENTUK, DAN DI MANA PRODUK KITA PALING RELEVAN?”