Mineral recovery bukan gagasan yang hanya relevan untuk Indonesia. Berbagai negara telah mengembangkan pendekatan berbeda untuk mendapatkan kembali nilai dari tailings dan secondary materials.
SOUTH AFRICA — GOLD TAILINGS Operasi seperti DRDGOLD menunjukkan bahwa tailings emas lama dapat direclaim dan diproses kembali. Material direcovery, dibuat menjadi slurry, diproses dan emas yang masih tertinggal direcover kembali.
AUSTRALIA — ZINC TAILINGS Century Mine menunjukkan model lain. Tailings dari operasi zinc lama menjadi feed bagi kegiatan reprocessing dengan hydraulic reclamation dan pengolahan kembali.
SWEDEN — IRON ORE TAILINGS Program ReeMAP LKAB memperlihatkan konsep yang lebih menarik lagi. Material dari iron-ore processing dievaluasi untuk mendapatkan apatite concentrate dan kemudian potensi phosphorus serta rare earth elements.
Artinya: RECOVER DIFFERENT.
FINLAND — BATTERY MATERIAL Battery black mass dapat diproses melalui mechanical treatment dan hydrometallurgy untuk mengambil kembali Li, Ni, Co dan Mn.
CHINA — BAYAN OBO Kompleksitas mineral Bayan Obo mendorong pengembangan berbagai teknologi untuk memisahkan iron, rare earth dan mineral terkait melalui kombinasi sorting, magnetic separation, flotation, roasting dan leaching.
CHINA — BAUXITE RESIDUE Red mud juga terus diteliti sebagai potential secondary resource untuk Fe, Sc, REE dan material lainnya melalui berbagai processing routes.
Pelajaran globalnya jelas: MINERAL YANG TIDAK DIRECOVER HARI INI BELUM TENTU TIDAK BERNILAI BESOK. Perubahan teknologi, harga dan kebutuhan pasar dapat mengubah economics suatu material. Indonesia perlu mulai membangun inventory: