The Translation Gap: Mengapa Riset Bagus Belum Tentu Menjadi Produk?
Bayangkan sebuah penelitian menghasilkan teknologi yang sangat menjanjikan. Apakah industri langsung bisa memproduksinya? Belum tentu. Apakah investor langsung tertarik? Belum tentu. Apakah regulator langsung mengizinkan?
Belum tentu. Apakah pasar mau membeli? Juga belum tentu.
Di sinilah banyak inovasi menghadapi “TRANSLATION GAP”. Ada jarak antara: LABORATORY SUCCESS dan REAL-WORLD SUCCESS.
Sebuah teknologi mungkin berhasil pada skala laboratorium, tetapi belum tentu stabil ketika diproduksi dalam jumlah besar. Produk mungkin secara teknis bagus, tetapi biaya produksinya terlalu mahal. Teknologinya mungkin feasible, tetapi intellectual property belum jelas. Produknya mungkin bisa diproduksi, tetapi belum mempunyai jalur regulatory yang matang. Bahkan semuanya mungkin sudah siap, tetapi tidak ada industrial partner yang bersedia membawanya ke pasar. Karena itu, inovasi membutuhkan lebih dari inventor.
Translation Gap tidak dapat diselesaikan oleh kampus sendirian. Dan juga tidak dapat diselesaikan industri sendirian.
Jembatannya adalah KOLABORASI. Inilah mengapa masa depan inovasi Indonesia sangat bergantung pada kemampuan kita membangun ekosistem yang membuat para pemain tersebut bekerja bersama.