Indonesia tidak kekurangan sumber daya mineral. Indonesia juga telah mengambil langkah besar melalui hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri. Namun perjalanan tersebut belum selesai. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa mineral yang telah ditambang dapat menghasilkan NILAI SEMAKSIMAL MUNGKIN.
Pertanyaannya bukan hanya: “Berapa banyak yang dapat kita tambang?” atau: “Seberapa jauh kita dapat melakukan hilirisasi?” Tetapi juga: “Berapa banyak mineral bernilai yang masih tertinggal dalam proses kita?” Tailings, slag, residue, waste rock, low-grade stockpile dan mineral ikutan jangan langsung dilihat hanya sebagai limbah. Sebagian mungkin memang tidak ekonomis untuk diolah kembali. Tetapi sebagian lainnya dapat menjadi SECOND RESOURCE apabila perkembangan teknologi, harga mineral, kebutuhan pasar dan economics memungkinkan.
Karena itu Indonesia perlu bergerak dari: EXTRACT MORE → PROCESS MORE → RECOVER MORE → WASTE LESS → CREATE MORE VALUE.
WHAT ACTION TO DO FOR INDONESIA?
1. BUILD THE NATIONAL MINERAL RECOVERY INVENTORY Indonesia perlu mulai mengetahui apa yang sebenarnya masih tersimpan pada material hasil kegiatan pertambangan dan pengolahan.
Petakan: • Tailings • Slag • Red mud / residue • Waste rock • Low-grade stockpile • By-product minerals • Old mine materials
Bukan hanya berdasarkan volumenya. Tetapi juga: TONNAGE → GRADE → MINERALOGY → MINERAL CONTENT → POTENTIAL VALUE.
Tanpa data, kita tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang kita tinggalkan.
2. IDENTIFY THE RECOVERY GAP Setiap komoditas perlu ditanyakan: Apa mineral utamanya? Berapa recovery saat ini? Apa yang belum terecovery? Apakah terdapat mineral ikutan yang bernilai? Apakah teknologi baru dapat meningkatkan recovery?
Gunakan tiga pendekatan: RECOVER MORE Meningkatkan recovery mineral utama.
RECOVER AGAIN Mengolah kembali material lama.
RECOVER DIFFERENT Mengambil mineral lain yang sebelumnya belum menjadi target.
3. SELECT STRATEGIC PILOT PROJECTS Jangan langsung membangun proyek komersial besar. Pilih beberapa kasus Indonesia yang paling menjanjikan, misalnya: NICKEL / HPAL → tailings & residue → Ni, Co, Sc dan kemungkinan mineral lainnya.
BAUXITE → red mud → Fe, Sc, REE dan material potensial lainnya.
TIN → old tailings / residue → Sn dan mineral ikutan.
COPPER–GOLD → tailings / residue → recovery mineral yang masih tertinggal. Setiap kandidat harus melewati: CHARACTERIZATION → LAB TEST → PROCESS ROUTE → PILOT → RECOVERY RATE → PRODUCT QUALITY → MARKET → CAPEX/OPEX → ENVIRONMENTAL ASSESSMENT → FEASIBILITY.
4. CREATE A NATIONAL MINERAL RECOVERY TECHNOLOGY PROGRAM Mineral recovery harus menjadi TECHNOLOGY CHALLENGE nasional.
BRIN + UNIVERSITAS + INDUSTRI harus dipertemukan dengan: GLOBAL TECHNOLOGY PROVIDER ENGINEERING COMPANY MINING CONTRACTOR EQUIPMENT SUPPLIER INVESTOR.
Targetnya bukan sekadar penelitian. Targetnya: RESEARCH → PILOT → DEMONSTRATION → ENGINEERING → COMMERCIALIZATION.
5. LEARN FROM THE WORLD — BUT BUILD INDONESIAN CAPABILITY China, Australia, Afrika Selatan, Swedia, Finlandia dan negara lainnya telah mengembangkan berbagai teknologi recovery dan secondary resource processing. Indonesia tidak perlu menemukan semuanya kembali dari nol. Namun kita juga jangan berhenti pada: BUY EQUIPMENT. Arah yang lebih strategis: GLOBAL TECHNOLOGY → TECHNOLOGY TRANSFER → LOCAL TESTING → PROCESS ADAPTATION → CO-DEVELOPMENT → LOCAL ENGINEERING → LOCAL MANUFACTURING → INDONESIAN TECHNOLOGY CAPABILITY.
6. DEVELOP MINERAL RECOVERY INCENTIVES Indonesia telah mendorong hilirisasi karena menghasilkan nilai tambah. Sekarang layak dikaji kebijakan yang juga mendorong: • R&D mineral recovery • Pilot & demonstration plant • Technology localization • Commercial recovery project • Recovery of critical minerals • Recovery yang sekaligus mengurangi environmental liabilities.
Prinsipnya sederhana: DOWNSTREAMING = ADD MORE VALUE.
MINERAL RECOVERY = LOSE LESS VALUE.
CIRCULAR ECONOMY = CREATE NEW VALUE FROM WHAT REMAINS.
7. BUILD THE NEW INDUSTRIAL ECOSYSTEM Mineral recovery dapat membuka pasar baru. Bukan hanya bagi perusahaan tambang. Tetapi juga: MINERAL LAB → BRIN / UNIVERSITY → TECHNOLOGY PROVIDER → ENGINEERING COMPANY → EPC → MINING CONTRACTOR → EQUIPMENT SUPPLIER → AUTOMATION & AI → ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY → O&M → INVESTOR / FINANCIER.
Dengan demikian mineral recovery dapat berkembang menjadi NEW INDUSTRIAL ECOSYSTEM.
8. TURN THE MAP INTO REAL PROJECTS Tahap terakhir adalah yang paling penting. Jangan berhenti pada seminar, riset, laporan atau MoU. Bangun: INDONESIA MINERAL RECOVERY OPPORTUNITY MAP.
Untuk setiap opportunity petakan: MATERIAL → PROBLEM → POTENTIAL MINERAL → TECHNOLOGY → OWNER → RESEARCH PARTNER → TECHNOLOGY PROVIDER → ENGINEERING → CONTRACTOR → SUPPLIER → INVESTOR → BUSINESS CASE → PROJECT.
Kemudian lakukan: BUSINESS MATCHING → PILOT PROJECT → INVESTMENT → COMMERCIAL PROJECT.
THE BIG MESSAGE Masa depan pertambangan Indonesia bukan hanya berada pada tambang baru. Sebagian peluang berikutnya mungkin justru berada pada MATERIAL YANG SUDAH PERNAH KITA TAMBANG.
Karena itu pertanyaan strategis Indonesia harus berubah: Bukan hanya: “WHAT ELSE CAN WE MINE?” Tetapi juga: “WHAT ELSE CAN WE RECOVER?”
INDONESIA'S NEXT MINING AGENDA KNOW WHAT WE HAVE. KNOW WHAT WE LOSE. RECOVER WHAT WE CAN. DEVELOP THE TECHNOLOGY. BUILD NATIONAL CAPABILITY. TURN IT INTO BUSINESS. CREATE MAXIMUM VALUE.
RESHAPING INDONESIA MINING INDUSTRY HOW TO : RECOVER MORE. WASTE LESS. CREATE MORE VALUE.
Disusun oleh: TITO LOHO CEO TENDER INDONESIA Chairman FSII – Forum Sinergi Inovasi Industri