Industri pertambangan biasanya sangat mengetahui berapa ton ore yang ditambang dan berapa ton produk yang dihasilkan. Tetapi ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: Berapa persen mineral bernilai yang benar-benar berhasil direcovery?
Jika 100 unit mineral bernilai masuk bersama ore dan hanya sebagian yang akhirnya menjadi produk, maka sisanya tidak menghilang. Ia berpindah ke aliran material lain.
Sebagian dapat berada dalam: -TAILINGS -SLAG -PROCESS RESIDUE -WASTE ROCK -LOW-GRADE STOCKPILE -BY-PRODUCT STREAM.
Di sinilah muncul MINERAL RECOVERY GAP. Recovery gap adalah ruang antara potensi mineral yang terdapat pada material dengan mineral bernilai yang akhirnya berhasil menjadi produk ekonomi.
Peluangnya dapat dibagi menjadi tiga: - RECOVER MORE: Meningkatkan recovery mineral utama dari proses yang sedang berjalan. - RECOVER AGAIN: Mengolah kembali tailings, slag, residue atau stockpile yang sudah terbentuk. - RECOVER DIFFERENT: Mencari mineral lain yang sebelumnya bukan target utama, tetapi ternyata mempunyai nilai ekonomi. - RECOVER DIFFERENT: menjadi semakin penting ketika dunia membutuhkan critical minerals.
Sebuah tambang yang selama ini dikenal sebagai tambang mineral A mungkin memiliki mineral B, C atau D yang sebelumnya tidak menarik secara ekonomi atau belum tersedia teknologi pemisahannya. Karena itu pertanyaan baru bagi industri bukan hanya: “Berapa besar produksi tambang kita?”
Tetapi: “MINERAL APA YANG MASIH KITA TINGGALKAN?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat membuka agenda riset, teknologi dan investasi yang sama sekali baru.