TRAINING • MENTORING • COMPETITION TENDER ACADEMY by TENDER INDONESIA Membangun kemampuan teknologi yang terhubung dengan kebutuhan industri
Perkembangan teknologi global berlangsung semakin cepat. Berbagai teknologi pengolahan, otomasi, manufaktur, energi, dan hilirisasi terus berkembang, sementara kebutuhan industri Indonesia juga semakin beragam. Persoalannya bukan hanya bagaimana memperoleh teknologi tersebut, tetapi bagaimana menyiapkan sumber daya manusia yang mampu memahami, mengevaluasi, memilih, dan menerapkannya sesuai kebutuhan proyek maupun potensi komoditas Indonesia. Karena itu, TENDER ACADEMY mengembangkan program TECHNOPRENEURSHIP melalui tiga pendekatan yang saling berhubungan: TRAINING, MENTORING, dan COMPETITION. Ketiganya dirancang sebagai proses pengembangan kemampuan, mulai dari penguasaan pengetahuan teknologi hingga penyusunan inovasi yang memiliki peluang diterapkan secara komersial.
1. TRAINING — Memahami teknologi dan peluang penerapannya Tahap pelatihan bertujuan memperkenalkan perkembangan teknologi dunia, termasuk teknologi China, yang relevan dengan kebutuhan industri Indonesia. Materi pelatihan tidak berhenti pada pengenalan jenis mesin atau peralatan, tetapi juga mencakup prinsip kerja, kapasitas produksi, kebutuhan bahan baku, standar produk, efisiensi energi, kebutuhan investasi, serta kemungkinan penerapannya. Pembelajaran menggunakan studi kasus industri dan proyek.
Sebagai contoh, pada komoditas kelapa, peserta dapat mempelajari perbedaan teknologi pengolahan kopra, virgin coconut oil, santan industri, karbon aktif tempurung, dan pemanfaatan serat sabut.
Peserta kemudian memahami bahwa setiap produk memerlukan teknologi, standar kualitas, skala produksi, investasi, dan pasar yang berbeda. Dalam pertambangan, peserta dapat mempelajari teknologi mineral processing, recovery mineral, serta pemanfaatan tailing. Pada sektor energi, pembelajaran dapat mencakup teknologi pembangkit, efisiensi energi, penyimpanan energi, dan sistem kelistrikan. Hasil yang ditargetkan: peserta mampu mengenali teknologi yang relevan, memahami manfaat dan keterbatasannya, serta mengidentifikasi kebutuhan industri yang dapat dilayani.
2. MENTORING — Mengembangkan gagasan menjadi rencana implementasi Setelah memahami teknologi, peserta memasuki tahap pendampingan untuk mengembangkan solusi atas persoalan atau kebutuhan industri tertentu. Pendampingan dapat melibatkan akademisi, praktisi engineering, penyedia teknologi, pelaku industri, dan pengembang bisnis.
Sebagai contoh, peserta yang ingin mengembangkan industri pemurnian glukomanan dari porang perlu mempelajari beberapa aspek secara terpadu: - Ketersediaan dan karakteristik bahan baku porang. - Pilihan teknologi ekstraksi dan pemurnian. - Kapasitas serta kebutuhan utilitas pabrik. - Persyaratan mutu dan keamanan produk. - Potensi pasar industri pangan maupun aplikasi lainnya. - Estimasi investasi, biaya produksi, dan kelayakan usaha. - Kebutuhan mitra teknologi, pemasok, pembeli, serta pembiayaan.
Dengan demikian, peserta tidak hanya menyampaikan gagasan bahwa porang memiliki nilai tambah, tetapi mampu menyusun konsep usaha yang menjelaskan produk apa yang akan dihasilkan, bagaimana proses produksinya, siapa pembelinya, dan apakah secara teknis maupun ekonomi layak dikembangkan. Hasil pendampingan dapat berupa proposal inovasi, rancangan proses, studi kelayakan awal, Business Plan, atau rencana kolaborasi dengan perusahaan.
3. COMPETITION — Menguji inovasi dan kemampuan Business Plan Kompetisi menjadi sarana untuk menguji hasil pembelajaran dan pendampingan melalui presentasi, penilaian, serta pembandingan berbagai pendekatan solusi. Peserta perlu menjelaskan persoalan yang ingin diselesaikan, teknologi yang dipilih, keunggulan solusi, potensi pasar, kebutuhan investasi, dan strategi implementasinya.
Penilaian tidak semata-mata berdasarkan kreativitas ide, tetapi juga memperhatikan relevansi teknologi, kelayakan penerapan, nilai tambah, dan kualitas rencana bisnis. Melalui kerja sama dengan World Business Plan Organization (WBPO) dan berbagai mitra, TENDER ACADEMY mengembangkan jalur kompetisi yang dapat mencakup tahapan regional, nasional, hingga internasional. Keikutsertaan dalam kompetisi memberikan kesempatan memperoleh evaluasi, rekognisi, pengalaman presentasi, dan memperluas jaringan dengan akademisi maupun pelaku industri.
Namun, penghargaan bukanlah tujuan akhirnya. Gagasan yang memiliki potensi perlu ditindaklanjuti melalui pengembangan prototipe, pengujian, penyempurnaan Business Plan, pencarian mitra, dan penjajakan implementasi.
4. KOLABORASI DENGAN LEMBAGA PENDIDIKAN DAN INDUSTRI Program TECHNOPRENEURSHIP terbuka untuk dikembangkan bersama berbagai lembaga sesuai kebutuhan dan karakteristik pesertanya.
>>Perusahaan dan divisi engineering Program dapat diarahkan pada peningkatan kemampuan engineer, R&D, technical services, dan innovation team dalam mengevaluasi teknologi baru, menyelesaikan persoalan operasional, serta mengembangkan efisiensi dan produk industri.
>>Corporate University Program dapat diintegrasikan dengan pengembangan kompetensi karyawan, penguatan inovasi internal, dan pembelajaran berdasarkan proyek nyata perusahaan.
>>Balai Latihan Kerja dan Training Center Pelatihan dapat difokuskan pada pemahaman proses industri, pengoperasian teknologi, keterampilan teknis, serta peningkatan kesiapan tenaga kerja terhadap kebutuhan industri baru.
>>Universitas, Institut Teknologi, dan Politeknik Kolaborasi dapat mencakup studi kasus industri, penelitian terapan, pengembangan prototipe, Business Plan, kompetisi inovasi, dan penjajakan kerja sama dengan pemilik proyek atau penyedia teknologi.
>>SMA dan SMK Program dapat disesuaikan untuk memperkenalkan teknologi industri, melatih kemampuan berpikir kritis, mengembangkan ide inovasi sederhana, dan membangun keberanian mempresentasikan solusi.
5. BENTUK KEGIATAN YANG DAPAT DIKEMBANGKAN Pelaksanaan program dapat dilakukan melalui beberapa format:
Seminar dan Technology Sharing: pengenalan perkembangan teknologi dan aplikasinya dalam industri. Workshop dan Hands-on Training: pembelajaran teknis, studi kasus, serta latihan evaluasi teknologi. Project Visit dan Industrial Visit: kunjungan ke fasilitas industri, pabrik, laboratorium, atau proyek untuk memahami kebutuhan operasional dan penerapan teknologi. Innovation Clinic: pendampingan pengembangan ide, pemilihan teknologi, penyusunan konsep implementasi, dan Business Plan. Business Matching: mempertemukan peserta atau pengembang inovasi dengan penyedia teknologi, perusahaan engineering, pemilik proyek, calon pembeli, dan mitra pembiayaan. Competition Preparation: pembimbingan proposal, analisis kelayakan, penyusunan presentasi, serta persiapan mengikuti kompetisi nasional dan internasional.
6. PERAN TENDER INDONESIA DAN FSII TENDER INDONESIA memiliki jaringan informasi proyek dan pelaku industri yang dapat menjadi referensi dalam menentukan topik pembelajaran serta mengidentifikasi kebutuhan pasar. Sementara itu, FSII — Forum Sinergi Inovasi Industri — berperan sebagai wadah pengembangan sinergi antara pemilik proyek, pelaku industri, penyedia teknologi, lembaga penelitian, dan institusi pendidikan. Keterhubungan tersebut memungkinkan program TECHNOPRENEURSHIP dikembangkan berdasarkan persoalan dan peluang industri yang nyata.
Misalnya, ketika terdapat kebutuhan teknologi pengolahan mineral, efisiensi pembangkit, pemanfaatan limbah perkebunan, atau pengembangan produk pangan, kebutuhan tersebut dapat menjadi bahan studi kasus, topik pelatihan, pendampingan, maupun kompetisi inovasi.
7. HASIL YANG DIHARAPKAN Keberhasilan program tidak cukup diukur berdasarkan jumlah peserta pelatihan atau sertifikat yang diterbitkan.
Hasil yang perlu dikembangkan meliputi: 1. Peningkatan kemampuan memahami dan mengevaluasi teknologi. 2. Teridentifikasinya kebutuhan proyek atau persoalan industri yang dapat diselesaikan. 3. Tersusunnya proposal inovasi dan Business Plan yang dapat dievaluasi. 4. Terbentuknya hubungan antara lembaga pendidikan, penyedia teknologi, dan perusahaan. 5. Berkembangnya prototipe, uji coba, atau rencana implementasi yang layak ditindaklanjuti. 6. Terbukanya peluang rekognisi dan kolaborasi melalui kompetisi nasional maupun internasional.
KESIMPULAN — DARI PEMBELAJARAN MENUJU PENERAPAN INDUSTRI
Melalui TRAINING, peserta memperoleh pengetahuan dan kemampuan mengevaluasi teknologi. Melalui MENTORING, pengetahuan tersebut dikembangkan menjadi solusi, inovasi, dan rencana bisnis. Melalui COMPETITION, gagasan diuji, dipresentasikan, dievaluasi, dan berpeluang memperoleh rekognisi serta mitra pengembangan.
Ketiga pendekatan ini membentuk satu rangkaian pengembangan kompetensi yang dapat diterapkan pada berbagai jenjang pendidikan maupun kebutuhan perusahaan. TENDER ACADEMY mengundang perusahaan, corporate university, BLK, training center, universitas, institut teknologi, politeknik, SMA, dan SMK untuk mengembangkan program TECHNOPRENEURSHIP bersama. Tujuannya bukan sekadar menambah kegiatan pelatihan, melainkan membangun kemampuan yang dapat digunakan untuk menghasilkan inovasi, memperkuat industri, dan meningkatkan nilai tambah sumber daya Indonesia.
LEARN THE TECHNOLOGY → DEVELOP THE SOLUTION → VALIDATE THE BUSINESS PLAN → CONNECT WITH INDUSTRY → CREATE VALUE.