RUBRIK VOLUME 127 :
 
o PROYEK TELEKOMUNIKASI
o PROYEK KELISTRIKAN
 
PROYEK INFRASTRUKTUR
Proyek Infrastruktur Logistik Batubara Prospek Sinergi Proyek RMKE Tbk
Paling inovatif adalah model bisnis logistik batubara terintegrasi milik RMKE Tbk, terutama di Sumatera Selatan. 
RMKE tidak hanya menyediakan satu bagian transportasi, tetapi membangun alur mine-to-port dari tambang, jalan angkut, stasiun pemuatan, kereta api, stasiun bongkar hingga pelabuhan.

1. Gambaran ekosistem mine-to-port
Komponen utama point bisnis model  adalah :
1. Tambang-tambang batubara klien di kawasan Muara Enim dan sekitarnya;
2. RMUK Coal Hauling Road; (bahagian dari group usaha)
3. Gunung Megang Loading Station;
4. Jaringan kereta api;
5. Simpang Unloading Station;
6. Keramasan Port/RMKE Musi 2;
7. Akses ke Sungai Musi dan area labuh kapal.

Ini berarti RMKE berusaha mengendalikan beberapa titik kritis rantai logistik sekaligus. Model terintegrasi memberikan manfaat berupa koordinasi yang lebih baik, kepastian kapasitas, pengurangan waktu tunggu, dan biaya logistik yang lebih terkendali.


Dalam model bisnis RMKE Tbk maka moda transportasi utama berupa railway atau kereta api.
Keunggulannya meliputi:
1. Keselamatan
Kereta api dipandang sebagai moda pengangkutan batubara yang lebih aman dibandingkan penggunaan truk dalam jumlah besar di jalan umum.

2. Tarif kompetitif
Tarif yang tercantum sekitar:
Rp806–922 per ton per kilometer.
Angka ini diposisikan sebagai tarif yang lebih rendah dibandingkan alternatif pengangkutan menggunakan jalan khusus.
3. Volume besar
Setiap rangkaian kereta mampu mengangkut sekitar 2.800 ton per kereta.
Dengan kapasitas per perjalanan yang besar, peningkatan frekuensi kereta dapat langsung meningkatkan volume batubara yang dilayani.

4. Dekat dengan area labuh
Lokasi fasilitas RMKE berjarak sekitar:
±69 mil laut menuju area labuh atau anchorage.
Kedekatan tersebut mengurangi jarak angkut melalui sungai dan mempercepat pemindahan batubara menuju kapal.

5. Integrasi jalan angkut dan kereta api
Integrasi antara hauling road dengan kereta api membuat layanan lebih andal. Batubara dari tambang tidak hanya bergantung pada satu moda transportasi.


Jarak tempuh  RMKE 147 km, sesuai dengan perbandingan jarak dari Tanjung Enim ke pelabuhan Keramasan yang  mempunyai beberapa kelebihan:
1. Lebih dekat dibandingkan Tarahan;
2. Kapasitasnya lebih besar daripada Kertapati;
3. Tarif berbasis kereta lebih rendah daripada jalan khusus;
4. Masih memiliki ruang peningkatan kapasitas;
5. Relatif dekat menuju area labuh;
6. Terhubung dengan ekosistem logistik RMKE sendiri.

Dengan demikian, Keramasan diposisikan sebagai salah satu terminal batubara paling strategis di Sumatera Selatan.



Keterbatasan modal konvensional kalau sepenuhnya memakai jalur truk :
1. Tarif sekitar Rp1.200 per ton per kilometer, belum termasuk tol;
2. Jarak transshipment melalui sungai lebih panjang;
3. Ketergantungan kepada truk, kondisi jalan, bahan bakar, dan perawatan armada.

MODEL BISNIS DAN KEUANGAN 
Untuk moda kereta api sendiri  maka  angkutan pengelolaan di bawah KERETA API INDONESIA PERSERO (KAI).
Dan sementara fee bongkar muat stasiun terminal adalah jatah RMKE Tbk. Ini termasuk fee  port handling dan transhipment ke kapal besar.

Di sinilah sinergi antara KAI dan RMKE Tbk yang menyangkut dengan tujuan final pelabuhan  Keramasan/RMKE Musi 2

Sekali lagi bahwa kelebihan model ini:
1. Jarak sekitar 147 km;
2. Kapasitas 20 juta ton per tahun;
3. Diarahkan meningkat menjadi 24 juta ton per tahun;
4. Menggunakan kereta dengan kapasitas sekitar 2.800 ton per rangkaian;
5. Lebih dekat menuju anchorage;
6. Terintegrasi dengan loading station, unloading station, jalan angkut dan pelabuhan.

Peluang proyek dan kebutuhan pemasok yang dapat diperoleh member TENDER INDONESIA  pada sub kelompok :
1. Infrastruktur rel berupa :
rel, bantalan dan wesel;
sistem persinyalan;
jembatan dan pekerjaan sipil;
fasilitas loading–unloading;
pemeliharaan jalur kereta.

2. Pelabuhan dan material handling berupa :
conveyor;
crusher dan screening equipment;
stacker–reclaimer;
ship loader atau barge loader;
hopper;
dust suppression system;
timbangan dan sampling system.

3. Armada dan operasional berupa :
lokomotif dan gerbong;
dump truck dan alat berat;
tugboat serta barge;
suku cadang;
ban, pelumas dan bahan bakar;
jasa operasi dan perawatan.

4. Digitalisasi berupa :
fleet management system;
pelacakan kereta dan truk;
terminal operating system;
predictive maintenance;
CCTV dan keamanan;
integrasi data volume;
optimasi jadwal dan antrean;

5. Sistem keselamatan kerja berupa :
Lingkungan dan keselamatan
pengendalian debu;
pengelolaan air limbah;
pemantauan kualitas udara;
reklamasi dan penghijauan;
perlengkapan HSE;
sistem pemadam kebakaran;
monitoring kestabilan jalan dan timbunan batubara.

Kesimpulan strategisnya: Pertumbuhan volume dan ekspansi kapasitas RMKE akan menciptakan peluang pengadaan dan kolaborasi pada infrastruktur rel, pelabuhan, conveyor, alat berat, armada, pemeliharaan, digitalisasi, HSE, dan teknologi lingkungan.

Bagi member TENDER INDONESIA, RMKE merupakan target pasar potensial karena memiliki kebutuhan operasional berulang sekaligus proyek pengembangan kapasitas. Pendekatan terbaik adalah menawarkan solusi untuk meningkatkan throughput, menekan biaya, mengurangi waktu tunggu, dan menjaga keandalan rantai logistik.

Gallery Album

 
All Rights Reserved © Copyright 2024 PT. Tender Indonesia Commercial, design by AbelPutra.com