Indonesia mulai memasuki pembahasan serius mengenai Low-Altitude Economy, yaitu pemanfaatan ruang udara ketinggian rendah untuk berbagai aktivitas ekonomi berbasis teknologi seperti eVTOL, drone, urban air mobility, logistics, surveillance, emergency response, hingga konektivitas antarpulau.
Momentum ini terlihat dalam Indonesia International Transport Summit 2026, dengan salah satu sesi utama bertema: “Unlocking the Skies and Seas: Indonesia's Low-Altitude Economy and Archipelagic Connectivity.”
Forum mempertemukan unsur pemerintah, regulator, akademisi, operator transportasi, serta pelaku teknologi. Dalam agenda tersebut terdapat interaksi bersama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan William Sabandar dari Institut Transportasi dan Logistik (ITL).
Yang semakin menarik bagi ekosistem TENDER INDONESIA & FSII, forum ini juga mendapat dukungan KALISTA, bagian dari ekosistem bisnis Indika Energy Group. KALISTA sebelumnya juga telah menjadi bagian dari jejaring kolaborasi TENDER INDONESIA–FSII dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik.
Artinya, perspektifnya kini dapat diperluas: EV → eVTOL → LOW-ALTITUDE MOBILITY → SMART TRANSPORTATION ECOSYSTEM Bukan hanya kendaraan yang berubah menjadi elektrik, tetapi arsitektur transportasi masa depan juga mulai berubah.
Bagi TENDER INDONESIA, justru di sinilah peluang besarnya. Low-Altitude Economy nantinya membutuhkan banyak rantai pasok: aircraft/eVTOL, battery & charging, vertiport, navigation, air traffic management, telecommunication, sensors, AI, cybersecurity, mapping, weather systems, safety systems, certification, engineering, construction, operation & maintenance.