RUBRIK VOLUME 132 :
 
o TENDER UPDATES
o BUSINESS MATCHING
o PROJECT UPDATE
o ACADEMY
o PRODUCT & TECHNOLOGY
 
PRODUCT & TECHNOLOGY
Tren Hubungkan Equipment, Data dan Teknologi
Dalam industri yang mengandalkan ratusan peralatan, teknologi, dan operasi yang berjalan hampir tanpa henti, sebuah keputusan kecil dapat berdampak besar pada keberlanjutan. Kapan sebuah mesin perlu diperiksa? Equipment mana yang mulai menunjukkan penurunan performa? Mana yang berpotensi menggagalkan operasi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat teknologi di industri tidak lagi hanya berbicara mengenai mesin yang lebih besar, lebih cepat, atau lebih kuat. Perkembangannya mulai bergerak ke arah yang berbeda: bagaimana otomatisasi data dapat membantu manusia mengambil keputusan dengan lebih cepat dan terukur.

Perubahan cara berpikir tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam PERTAABI Summit pada hari ketiga IEE Series – Engineering Week 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (11/9). Dalam forum seminar berjudul “From Corrective to Prescriptive: Driving Reliable Mining Operations through Digital Transformation of Heavy Equipment Maintenance”, Mufrod Feriyanto, Senior Business Development Manager Hexagon, dalam paparannya menjelaskan tentang bagaimana digitalisasi mulai mengubah cara industri menjaga keandalan dan melakukan pemeliharaan peralatan.  Penjelasan Mufrod menunjukkan bahwa perubahan dalam maintenance tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi baru, tetapi juga bagaimana data membantu perusahaan memahami kondisi equipment dengan lebih baik. Dengan informasi yang lebih aktual, perusahaan dapat menentukan kapan dan di mana maintenance diperlukan sebelum gangguan berkembang menjadi masalah yang lebih besar. Cara kerja berbasis data ini kemudian dapat diterapkan lebih luas dalam operasi tambang, mulai dari melihat penggunaan equipment, memantau produktivitas, hingga mengoptimalkan penggunaan bahan bakar.  Artinya, industri tidak hanya berusaha mengetahui apa yang sudah terjadi. Pola mitigasi semacam ini tentu sudah dapat dikelola menggunakan teknologi mutakhir, guna membaca pola untuk mengantisipasi apa yang mungkin terjadi dan menentukan tindakan yang perlu dilakukan.

Di area outdoor IEE Series - Engineering Week 2026, sejumlah perusahaan mulai memperlihatkan bahwa sebuah alat berat kini dapat menjadi lebih dari sekadar mesin yang menjalankan pekerjaan, tetapi juga bisa memberikan masukan berupa berbagai data terkait kondisi dan performa yang kemudian digunakan untuk membantu pengelolaan operasi. Inovasinya hadir melalui perkembangan telematika, sistem monitoring, dan pengolahan data operasional.
Salah satu contoh hadir di area Shandong Heavy Industry Indonesia (SDHI). Pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial pada equipment mulai membuka cara baru dalam mengelola operasi, terutama ketika perusahaan perlu memantau unit yang bekerja di wilayah terpencil atau dalam kondisi yang memiliki risiko keselamatan lebih tinggi. 

Perspektif ini menunjukkan bahwa tantangan industri tidak selalu terletak pada kemampuan sebuah mesin untuk bekerja, tetapi pada kemampuan perusahaan untuk memastikan seluruh equipment bekerja pada kondisi yang tepat, pada waktu yang tepat, dan dengan penggunaan sumber daya yang optimal. Dengan demikian, teknologi menjadi bagian dari upaya mengelola operasi secara lebih presisi–menjaga produktivitas, mengurangi potensi pemborosan, sekaligus mendukung keselamatan di lapangan. Dalam konteks tersebut, teknologi menjadi lapisan penghubung antara peralatan operasional (mesin) dan pengambilan keputusan operasional (manusia).
Dari Mesin ke Dasbor, Antara Teknologi dan Manusianya

Industri pertambangan memang sudah bergerak untuk mendigitalisasi manajemen operasionalnya. Namun, pada kenyataannya, banyaknya data dan puluhan sensor yang butuh dasbor sendiri sering kali mempersulit alur kerja. Oleh karena itu, produk Minexus dari Virtu hadir sebagai solusi dengan mengintegrasikan seluruh sistem operasional (FMS telemetry, weather data, drone inspection, CCTV monitoring, dan operator mobile reports) ke dalam satu tampilan dasbor terpusat. Founder dari Virtu, Evan Kusuma, menjelaskan bahwa dengan adanya dasbor terpusat ini, operator tidak lagi harus belajar berbagai dasbor operasional dan melihat data yang terisolasi, melainkan hanya belajar satu sistem dasbor dengan visual operasional 3D yang kontekstual terhadap kondisi lapangan sebenarnya. 

Inovasi digitalisasi industri juga terlihat, misalnya, dari solusi yang dikembangkan oleh IoT Kreasi Indonesia, yang memanfaatkan sensor dan pemantauan digital untuk mendeteksi potensi kerusakan bangunan maupun persoalan operasional sejak dini. Data dari sensor dapat dipantau melalui dasbor, sehingga kondisi di lapangan dapat diketahui sebelumnya. Memberi nilai tambah bagi industri dalam mengantisipasi risiko, mencegah gangguan yang lebih besar, dan menjaga keberlangsungan operasi.



Pada sektor konstruksi, pendekatan serupa muncul melalui digital workflow dan Building Information Modelling (BIM), yang memungkinkan informasi proyek digunakan secara lebih terintegrasi sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Sementara di sektor manufaktur, perkembangan otomatisasi dan sistem kontrol menawarkan presisi, konsistensi, dan efisiensi proses.
Perbedaan dalam pengaplikasian menandakan nihilnya satu bentuk digitalisasi yang berlaku untuk seluruh industri. Namun, terdapat satu pola yang semakin jelas: semakin kompleks operasi sebuah industri, semakin penting kemampuan pengolahan data menjadi informasi penentu keputusan. Harbayu Budhi Waryawan, pendiri Archilantis, menjelaskan fungsi BIM demi mempercepat proses identifikasi masalah konstruksi sedari awal, bahkan sebelum pelaksanaan proyek. “


Pada sektor lain, sistem sejenis juga hadir pada PT Gaya Makmur Mobil (GM Mobil) melalui GM Teletech, sistem manajemen armada berbasis digital. GM Mobil memanfaatkan telematika untuk memantau berbagai informasi dari unit, mulai dari lokasi, konsumsi bahan bakar, kecepatan, hingga pola operasional kendaraan. Data tersebut dapat dipantau, sehingga pemilik tidak hanya mengetahui posisi unit, tetapi juga dapat melihat bagaimana kendaraan beroperasi di lapangan—melihat penggunaan bahan bakar, pola kerja, hingga aspek keselamatan pengemudi, seperti adanya dash-cam sebagai peringatan kondisi pengemudi ketika mengantuk atau tidak dalam kondisi fit. Di titik ini, telematika menjadi lapisan penghubung antara equipment dan pengelolaan operasinya; antara apa yang terjadi di lapangan dan keputusan yang perlu diambil untuk menjaga efisiensi serta keselamatan.



Dari situ, teknologi mulai menjadi lebih dari sekadar perangkat pendukung operasi. Ketika data dari unit dapat dipantau dan diterjemahkan menjadi informasi mengenai konsumsi bahan bakar, pola operasional, maupun kondisi pengemudi, teknologi mulai ikut membentuk cara industri memahami dan merespons pekerjaannya.

Gallery Album

 
All Rights Reserved © Copyright 2024 PT. Tender Indonesia Commercial, design by AbelPutra.com