Telkom Indonesia melalui NeutraDC/Nxera menyiapkan data center Batam dengan kapasitas awal 6 MW yang ditargetkan mulai beroperasi pada semester II 2026. Target berikutnya adalah 18 MW pada 2027 — naik 3 kali lipat.
Yang lebih penting, fasilitas pertama BTM-1 bahkan telah memperoleh partner untuk seluruh kapasitasnya sebelum beroperasi.
Karena demand tersebut, Telkom sudah mempersiapkan BTM-2. Salah satu partner yang telah mengamankan kapasitas BTM-1 adalah Gorilla Technology untuk mendukung infrastruktur AI dan layanan digital regional.
Dan skalanya ternyata jauh lebih besar daripada angka 18 MW. Telkom menyebut master development NeutraDC Nxera Batam dirancang hingga 100 MW. Artinya 18 MW sebaiknya dibaca sebagai tahapan ekspansi, bukan kapasitas final kawasan.
Mengapa Batam strategis? Posisinya dekat Singapura dan berada dalam kawasan SIJORI (Singapore–Johor–Riau). Telkom sendiri menyebut Batam sebagai gerbang konektivitas digital Indonesia yang menghubungkan pasar domestik dengan ekosistem regional.
Ini membuat narasinya lebih besar: BATAM → DIGITAL INFRASTRUCTURE HUB → SINGAPORE/SIJORI → CLOUD + AI + HYPERSCALE DATA CENTER
Permintaannya juga terlihat dari aset Telkom lainnya. Data center Cikarang memiliki effective capacity sekitar 15,5 MW dengan occupancy 96%, sementara fasilitas Singapura sekitar 17,4 MW dengan occupancy ±90%.
Yang paling menarik bagi member TENDER INDONESIA Bagi saya, informasi ini sebaiknya jangan berhenti pada “Telkom membangun data center 18 MW.”
RAG TENDER INDONESIA perlu menurunkannya menjadi supply-chain opportunity. Ekspansi BTM-1 → BTM-2 → pengembangan menuju 100 MW berpotensi membuka kebutuhan pada power infrastructure, UPS, transformer, switchgear, genset/backup power, battery/BESS, cooling & liquid cooling, chiller, HVAC, rack, containment, fire protection, DCIM/BMS, fiber optic & connectivity, cybersecurity, physical security, EPC/MEP, testing & commissioning, serta renewable/green power.