Empat Proyek Offshore Indonesia Masuk Radar Pengembangan Migas Asia Tenggara
Abadi Masela, Geng North, Tangkulo, dan Tuna menunjukkan perkembangan proyek gas lepas pantai Indonesia, sementara Malaysia dan Timor-Leste juga mempercepat pengembangan lapangan offshore. Peta pengembangan fasilitas produksi terapung di Asia Tenggara menunjukkan delapan proyek migas offshore yang tersebar di Indonesia, Malaysia, dan Timor-Leste. Empat proyek berada di Indonesia, yakni Abadi Masela di Laut Arafura, Geng North di lepas pantai Kalimantan Timur, Tangkulo di South Andaman lepas pantai Aceh, serta Tuna di Laut Natuna. Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa sejumlah proyek tersebut telah bergerak dari tahap perencanaan menuju keputusan investasi, rekayasa teknik, dan pelaksanaan konstruksi.
>>Abadi Masela: FEED Rampung, FID Ditargetkan Januari 2027
INPEX menyelesaikan Front-End Engineering Design (FEED) proyek LNG Abadi Masela pada Oktober 2026, lebih cepat dari jadwal semula. Penyelesaian desain tersebut mencakup fasilitas bawah laut dan jaringan pipa, FPSO, serta fasilitas LNG darat. Proyek dengan investasi sekitar US$20,9–22 miliar ini telah melaksanakan groundbreaking pada 16 Juli 2026. Keputusan investasi akhir (FID) ditargetkan pada akhir 2026 atau paling lambat Januari 2027, sedangkan produksi gas ditargetkan mulai 2030. Kapasitas yang direncanakan mencakup produksi LNG sebesar 9,5 juta ton per tahun, pasokan gas pipa domestik, dan kondensat.
>>Geng North: FPSO Mulai Difabrikasi di Karimun
Proyek North Hub yang dikembangkan Eni, mencakup lapangan Geng North dan Gehem di Cekungan Kutai, telah mencapai FID pada Maret 2026. Pada 23 Juli 2026, fabrikasi FPSO Bahtera Haluan Lestari dimulai melalui pemotongan baja pertama di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau. Investasi keseluruhan North Hub mencapai US$11,8 miliar, termasuk sekitar US$2,9 miliar untuk fasilitas FPSO. Fasilitas tersebut direncanakan memproses produksi gas dari 16 sumur dengan target operasi mulai 2028. Perkembangan ini menjadi tonggak penting bagi industri fabrikasi offshore Indonesia karena sebagian pekerjaan fasilitas produksi terapung berskala besar dilaksanakan di dalam negeri.
>>Tangkulo: Pengembangan Gas Andaman Menuju Keputusan Investasi
Mubadala Energy bersama Harbour Energy melanjutkan persiapan pengembangan Lapangan Tangkulo di Wilayah Kerja South Andaman, lepas pantai Aceh. Plan of Development (POD) I telah memperoleh persetujuan pada Maret 2026. Pada Agustus, SKK Migas dan para pihak membahas target pelaksanaan FID pada September 2026.
Pengembangan lapangan ini diarahkan untuk mendukung tambahan produksi gas nasional dengan target operasi pada 2028. Namun, realisasi FID tetap memerlukan konfirmasi resmi terbaru.
>>Tuna: Pengembangan Natuna Berlanjut Setelah Perubahan Kepemilikan
Proyek Tuna di Laut Natuna memasuki perkembangan baru setelah Harbour Energy menyelesaikan divestasi kepentingannya kepada Prime Group pada Mei 2026. Prime Tuna EP menjadi pengelola dengan kepemilikan 50%, sementara 50% lainnya berada pada ZN Asia, yang terkait dengan Zarubezhneft Rusia. Pemerintah Indonesia juga memperoleh komitmen Zarubezhneft untuk melanjutkan pengembangan lapangan tersebut. Proyek Tuna masih berada dalam tahap pengembangan dan belum memasuki produksi komersial. Keempat proyek ini menggambarkan kemajuan yang berbeda: Masela menyelesaikan rekayasa awal, North Hub memasuki fabrikasi, Tangkulo mempersiapkan investasi, dan Tuna melanjutkan pengembangan setelah perubahan struktur kepemilikan.