Pertumbuhan Data Center, Cloud Computing dan Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah lanskap kebutuhan energi Indonesia. Data center tidak lagi sekadar membutuhkan lahan, gedung dan konektivitas fiber. Ketersediaan listrik dalam kapasitas besar, keandalan pasokan, kualitas daya serta akses terhadap energi hijau semakin menentukan lokasi investasi data center.
Isu tersebut menjadi pembahasan dalam panel: “IS INDONESIA POWER READY? HOW POWER READINESS SHAPES DATA CENTRE SITES”
Dibahas pada ajang akbar internasional Enlit Asia / MKI Electricity Connect 2026, 22–24 September 2026 di ICE BSD City.
Diskusi dimoderatori oleh: Tito Loho – CEO TENDER INDONESIA dengan menghadirkan: • Dini Sulistyawati – EVP Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Enterprise, PT PLN (Persero) • Frederic Daniel van Husen – General Manager Indonesia, Princeton Digital Group • Indrama YM Purba – CEO, NeutraDC Nxera Batam • Benjamin Gunn – Director Business Development, Solar Turbines • Hendrikus Hendra Gozali – Country Head, ST Telemedia Global Data Centres
99% KAPASITAS TERKONEKSI BERADA DI JAMALI Data yang dipaparkan PLN memberikan gambaran menarik mengenai besarnya kebutuhan listrik industri data center. PLN mencatat 159 pelanggan data center dengan total connected capacity sekitar 1.989,5 MVA. Sekitar 99% kapasitas tersebut terkonsentrasi di sistem Jawa–Madura–Bali (JAMALI). Jawa Barat menjadi konsentrasi terbesar dengan 63 pelanggan dan connected capacity 1.306,36 MVA. Jakarta memiliki 50 pelanggan dengan 489,47 MVA, sedangkan Banten 12 pelanggan dengan 156,64 MVA.
Data tersebut menunjukkan bahwa data center telah berkembang menjadi LARGE POWER CONSUMER yang perlu diperhitungkan dalam perencanaan sistem ketenagalistrikan.
ERA AI MEMBAWA TANTANGAN BARU
Perkembangan AI Data Center berpotensi meningkatkan kebutuhan listrik jauh lebih besar. Infrastruktur komputasi AI membutuhkan daya besar sekaligus menuntut tingkat keandalan yang sangat tinggi. Karena itu, keputusan lokasi investasi data center semakin terkait dengan beberapa pertanyaan:
Apakah kapasitas listrik tersedia? Seberapa cepat koneksi listrik dapat diberikan? Apakah jaringan cukup andal? Bagaimana sistem redundansinya? Apakah tersedia pilihan energi rendah karbon?
Dengan demikian: POWER READINESS menjadi bagian penting dari DATA CENTER SITE READINESS.
PELUANG BISNIS TIDAK BERHENTI PADA DATA CENTER Bagi member TENDER INDONESIA, tren ini menarik karena investasi data center menciptakan rantai peluang proyek yang sangat panjang:
POWER GENERATION
↓
TRANSMISSION & GRID
↓
SUBSTATION
↓
DISTRIBUTION & ELECTRICAL
↓
BACKUP POWER
↓
UPS & BATTERY / BESS
↓
COOLING SYSTEM
↓
RENEWABLE ENERGY
↓
MONITORING & AUTOMATION
↓
DATA CENTER & AI COMPUTING
Artinya, peluang tidak hanya tersedia bagi perusahaan teknologi informasi. Pertumbuhan data center juga menciptakan pasar bagi EPC Contractor, electrical equipment, transformer, switchgear, cable, gas turbine, genset, UPS, battery/BESS, cooling system, renewable energy, automation, monitoring, engineering, testing, commissioning hingga operation & maintenance.
DARI “DATA CENTER PROJECT” MENJADI “POWER ECOSYSTEM” Inilah perubahan perspektif yang penting bagi pelaku Business Development.
Jangan hanya mencari: “Di mana proyek Data Center berikutnya?” Tetapi perlu diperluas menjadi: “Infrastruktur apa saja yang harus dibangun agar Data Center tersebut dapat beroperasi?”
Sebuah investasi data center berskala besar dapat memicu kebutuhan proyek lain di sisi grid connection, substation, power generation, renewable energy, electrical system, cooling hingga digital energy management.
DATA CENTER BOOM = POWER INFRASTRUCTURE OPPORTUNITY Bagi TENDER INDONESIA, perkembangan ini menjadi bagian penting dari BUSINESS OPPORTUNITY MAPPING:
Menghubungkan rencana investasi Data Center dengan kebutuhan teknologi, proyek pendukung, supply chain serta perusahaan yang berpotensi terlibat.
TENDER INDONESIA Connecting Project Opportunities in the Power & Digital Infrastructure Ecosystem